29 November 2010

Cuma Air Mata

Hanya ada, airmata..

Airmata !

Terasa sungguh sesak !

Di jiwa..


Airmata..

Airmata !

Digenangi telaga..

Kering sudah airmata..

Menelanjangi mata air


tak bisa ku berkata hanya airmata,

tak mampu ku berucap,

hanya airmata..

Mencuapkan pedih !

Tidak hanya di mata

namun, di perih !


Sakit

merintih

teriak !

Siapa yang mau dengar, kecuali Tuhan ??


Hanya airmata

airmata..

Kering gering lengking !


Sesak mengeluap

berteriak !


Cukup sudah airmata

airmata..

Pembasuh kepulan debu di wajah


ataukah memang debu debu itu

sengaja Kau turunkan sebagai pengusap airmata,

kerna begitu banyak duka,

terkubur awan yang siap memuntahkan kegalauannya..

Kado Terindahmu, Di Akhir Oktober

~

Awal November,

tanah itu masih basah jejak hujan bulan kemarin

dia masih merah kerna luka yang kau injak di hadapku

tatap itu masih redup akan kisah lalu

telah aku hanyutkan tanpa kenangan sedikitpun


aku engggan lagi menoleh

hanya ingatan tusukan kata

yang kau hujam ke uluku tanpa ampun


aku perempuan,

yang pernah kau sayang

kenapa begitu kejam menusuk nusuk hatiku

dengan seribu pradugamu


kado terindah itu,

cukup ucapan sinismu saja yang ku kenang

sebagai bekal aku pulang




(1 november 2010)

sajak Itu Kamu

~


Ketika selendang merah aku hempaskan ke pojok lingkaran

Aku tahu,

Kita akan sama sama terluka

Ketika hitam kita jentikkan

Kita bahagia di atas getar

Pada gemulai getir yang terkadang kita takut hadapi


Kita berupaya memburamkan cahaya

Di mana sinarnya datang dari nurani lara


Kau peluk aku dengan semiris ngilu belati rindu

Kau dekap aku walau tanjakan itu terasa berat bagimu

Kau lapang di kala aku teramat gersang

Belai aku dalam elusan lautmu


Kini, rinduku membiru

Melabur bersama gemeretak pilu

Aku melukis langit haru

Di sana wajahmu merintih pilu


Jikalau puisi itu adalah kamu

Aku takkan membiarkan ombak kan menyapu

Jikalau sajak itu adalah gemetarmu

Kan kubiarkan dia terus membelaiku


Pada malam di mana kita merasa dingin,

Pada hangat ketika jemari saling menempilin


Kamu

Aku

Dan rindu,

Yang hempaskan kebekuan abu di hatiku dan milikmu



(28 oktober 2010)

Indonesia, aku Cinta Padamu..

~

mau jadi apa.. mau jadi apa, Indonesiaku yang ayu

akan seperti apa, Indonesiaku nan gagah layaknya Garuda

mau dibawa ke mana Indonesiaku mulai terkikis hilang tanahnya

bencana terjadi di manamana..

dari ujung Sabang sampai ujung Merauke


anak anak menangis

ibu ibu menjerit kehilangan bayi

tua renta tersedu sedan di tinggal istri dan suami


air melibas begitu banyak nyawa

tanah gemeretak menghamburkan begitu banyak duka

menggulung mereka dalam amuk sangkala

hidung gunung meleleh lelah

terbatuk menularkan virus sendu luluh


teriak berteriak sebelum ajal menghajar

menangis sesunguk menyesal setelah semuanya usai


sementara bapakbapak besar dan ibu nan bijaksana itu kemana ??

saling menyalahkan meninggalkan luka tanpa kata

duduk ongkang kaki di belakang meja tidak peduli

menghitung pundi pundi hasil jerih payah korban tsunami

mencari muka tampang model sana sini sebentar senyum di televisi

pura pura lirih !


tak selamanya langit kan bergelayut mendung

tak selamanya hutan di gunung ditebasi tiada pelindung


tenanglah ibu..

kan ku jahit pelan pelan robekan di kebayamu dengan lagu

kan ku seka air di matamu dengan sapu tanganku


pelanpelan.. dan pelan..

kusulam itu satu demi satu

penuh khusyuk aku panjatkan Do'a selalu

untukmu ibu pertiwiku..